Kamis, 09 Agustus 2018

sahabat muda nusantara: Allah Tak Perlu Dicari!

sahabat muda nusantara: Allah Tak Perlu Dicari!: pelita makrifat ILMU MAKRIFAT TOK KENALI KELANTAN Tujuan karangan kitab ilmu Tok Kenali oleh Haji Mohd Yusof Cik Wook ini, bukan ...

Jumat, 02 Februari 2018

CORETAN TANGAN (by Harun Wahab)

     Sering dalam kehidpan, kita kurang mengharagai bahkan condong untuk tidak menghargai apa yang kita miliki. Apakah itu normal...? apakah itu dinamakan kehidupan...? tergantung dari sudut perspektif mana kita manatap.... kembali ke pembaca untuk.......

     Ketika kecil maunya cepat besar lihat saja di tipi artis kecil bergaya orang dewasa....

     HP canggih yang sudah di miliki ditelantarkan/dicuekin tidak diperhatian minta yang lebih canggih...



Hargai apa yang dimiliki, sekecil apapaun itu jangan sampai ianya berlalu tanpa engkau sadarai ....



hai wa d doan kae....



HARUN

   

Minggu, 28 Januari 2018

KESADARAN BURUNG

KESADARAN BURUNG adalah kesadaran
yang diperoleh seseorang selama dalam tahap perjalanan ruhani
melampaui maqam menuju Kesatuan (Tauhid). Bagaikan seekor burung,
seseorang yang sudah mencapai tahap ini akan menyaksikan dunia sebagai
tempat hinggap sementara dan dapat ditinggalkan kapan pun dikehendaki. Segala
sesuatu yang terkait dengan kecintaan terhadap dunia (hubb ad-dunya) sudah
menyingsing bagaikan matahari menyeruak di tengah gumpalan awan hitam. Dunia
telah menjadi sesuatu yang rendah di bawahnya. Pada tahap ini SANG PENCARI akan
merasakan getar-getar cinta (hubb) seorang pecinta (muhibb) untuk mengarahkan
pandangan kepada Kekasih (Mahbub) sehingga yang lain (ghair) akan terabaikan.



KESADARAN BURUNG adalah kesadaran SANG PENCARI melihat dunia sebagai sekadar tempat berpijak untuk hinggap, makan,
istirahat, bermadu kasih, tidur, dan bersarang. Atau, kesadaran makhluk
berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan ke hamparan kehidupan di
bawahnya. Atau, kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas
tanpa pernah menengadah dari bawah. Atau, kesadaran untuk selalu memberi tanpa
pernah meminta
. Atau, kesadaran SANG PENCARI yang sudah di ambang batas antara
alam kasatmata dan alam tak kasatmata. Atau, kesadaran untuk memaknai angkasa
kosong sebagai Tujuan akhir dari Kebebasan yang didambakannya, meski sayap-sayapnya
telah patah
dan tubuhnya terbanting menjadi bangkai di muka bumi. Di atas semua
gambaran itu, mereka yang sudah memiliki kesadaran burung adalah cermin dari
jiwa merdeka yang tak sudi bertekuk lutut kepada sesama, meski kepadanya
disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.

Meski kesadaran burung nilainya
lebih tinggi dibanding kesadaran hewan melata dalam rentang perjalanan ruhani
seorang salik, kesadaran burung masih terjenjang berdasarkan tingkat-tingkat
kedudukan (maqamat) yang mencitrai makna keburungan. Ada kesadaran burung gagak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh:
itulah kesadaran yang masih tercekam lingkaran angan-angan (al-wahm) yang
memunguti serpihan-serpihan bangkai kamalasan dan cepat lupa diri jika
dipuji-puji. Ada kesadaran burung merak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh:
itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu
untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah di
antara segala burung. Ada pula kesadaran bangau yang pintar bertutur kata,
namun cenderung memuji diri dan selalu memamfaatkan “udang-udang” yang percaya
pada ucapannya
.

Pada tingkat-tingkat kedudukan selanjutnya ada
yang disebut kesadaran burung beo, yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa
berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya. Ada kesadaran
burung pipit yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawanan-kawanan dan
kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar. Ada
kesadaran burung merpati yang meski mampu terbang tinggi dan jauh, cenderung
gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak.
Yang tergagah dan terperkasa adalah kesadaran burung rajawali; sebuah kesadaran
yang terbang tinggi dan jauh di tengah kesenyapan angkasa, berkawan kesunyian
dan keheningan, bersarang tinggi di puncak tebing karang, tidak makan jika
tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji
Penciptanya dengan suara garang digetari makna rahasia: haqq…haqq…haqq!


By terong-ebbo-aukoli.......

SEBUAH RENUNGAN (by KH. AGUS SUNYOTO)



Sejarah hampir tidak pernah
berbicara tentang kelompok marjinal karena dianggap telah subversif melalui
wacana dan praksis keagamaan yang mereka kembangkan. Mereka dianggap menantang
status quo kaum mayoritas. Sejarah kaum terpinggirkan telah tertindas oleh sejarah
yang berpusat pada kaum borjuasi lain: ulama dan elit penguasa.

Hegemoni menurut Gramsci bukan
semata-mata dominasi, melainkan juga “kepemimpinan” dan “kekuasaan” kelompok
sosial tertentu yang diwujudkan dalam masyarakat luas melalui keberhasilan untuk
mendapatkan pengaruh.

Persoalan dasar hegemoni bukanlah
tentang bagaimana suatu kelompok baru mendapatkan dominasi dan kekuasaan,
melainkan lebih penting lagi bagaimana kelompok itu sampai bisa diterima tidak
hanya sebagai penguasa, juga sebagai “pemandu” masyarakat sehingga mampu
memainkan peran sebagai pemimpin moral.

Kepemimpinan moral yang hegemoni
dapat menjadi dominan secara formal melalui aliansi dengan kekuatan politik.
Begitu aliansi seperti itu terjadi maka kekuatan dominan dan hegemonik dapat
menggunakan kekuatan dan bahkan kekerasan untuk mempertahankan posisinya yang
dominan. Pada tahap inilah muncul kelompok-kelompok terpinggirkan yang menjadi
sasaran dominasi dan penindasan....



terong.