Minggu, 28 Januari 2018

SEBUAH RENUNGAN (by KH. AGUS SUNYOTO)



Sejarah hampir tidak pernah
berbicara tentang kelompok marjinal karena dianggap telah subversif melalui
wacana dan praksis keagamaan yang mereka kembangkan. Mereka dianggap menantang
status quo kaum mayoritas. Sejarah kaum terpinggirkan telah tertindas oleh sejarah
yang berpusat pada kaum borjuasi lain: ulama dan elit penguasa.

Hegemoni menurut Gramsci bukan
semata-mata dominasi, melainkan juga “kepemimpinan” dan “kekuasaan” kelompok
sosial tertentu yang diwujudkan dalam masyarakat luas melalui keberhasilan untuk
mendapatkan pengaruh.

Persoalan dasar hegemoni bukanlah
tentang bagaimana suatu kelompok baru mendapatkan dominasi dan kekuasaan,
melainkan lebih penting lagi bagaimana kelompok itu sampai bisa diterima tidak
hanya sebagai penguasa, juga sebagai “pemandu” masyarakat sehingga mampu
memainkan peran sebagai pemimpin moral.

Kepemimpinan moral yang hegemoni
dapat menjadi dominan secara formal melalui aliansi dengan kekuatan politik.
Begitu aliansi seperti itu terjadi maka kekuatan dominan dan hegemonik dapat
menggunakan kekuatan dan bahkan kekerasan untuk mempertahankan posisinya yang
dominan. Pada tahap inilah muncul kelompok-kelompok terpinggirkan yang menjadi
sasaran dominasi dan penindasan....



terong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar